Sejarah dan Asal – usul Desa Pelem Kec. Campurdarat

Monday, 28 January 2013
Pelem Campurdarat Tulungagung Dahulu kala sebelum desa Pelem terbentuk pemerintahan desa, hanya merupakan suatu wilayah babatan. Dan yang membuka wilayah babatan tersebut adalah tiga orang dari kerajaan Mataran, yaitu : 1. Eyang Ibrahim, membuka wilayah bagian timur. 2. Eyang Tambakreso, membuka wilayah tengah 3. Eyang diposentono, membuka wilayah Barat. Setelah ketiga orang tersebut berhasil membuka wilayah babatan, maka lambat laung dibentuklah system pemerintahan. Namun Eyang Tambakreso yang ada diwilayah tengah tidak memikirkan masalah duniawi, maka wilayahnya digabungkan ( diserahkan ) kepada Eyang Diposentono yang ada di wilayah barat. Akhirnya terdapat wilayah pedukuhan yaitu Suberjo, Pelem, dan Tambak dengan pusat pemerintahan di Dukuh Pelem. Sedangkan wilayah timur yang dipegang oleh Eyang Ibrahim dengan wilayah pedukuhan yaitu, Jambu, Bangak, Jinggring dan Golong dengan pusat pemerintahan di Dukuh Jambu. Akhirnya kedua wilayah tersebut terbentuklah suatu pemerintahan desa yaitu : 1. Desa Pelem 2. Desa Bangak Sepeninggalan Eyang Diposentono Desa Pelem dipegang oleh Eyang Dipojono. Sedangkan sepeninggalan Eyang Ibrahim Desa Bangak dipegang oleh eyang Singodimedjo. Dan sepeningalan Eyang Dipojono Desa Pelem dipegang oleh Eyang Kucir. Sedangkan Desa Bangak seninggal eyang Singodimedjo dipegang oleh Eyang Sutomedjo. Dengan adanya anjuran dari pemerintah Belanda ( karena Indonesia masih dijajah Belanda ) untuk penggabungan beberapa desa menjadi satu desa. Dan salah satunya adalah Desa pelem dan Desa Bangak. Maka kemudian diadakanlah pemilihan dua pemegang kekuasaan wilayah desa tersebut yaitu Eyang Sutomedjo dan Eyang Kucir. Di dalam pemilihan pertama kalinya diadakan pemilihan yang unggul adalah Eyang sutomedjo, selanjutnya digabunglah dua desa tersebut menjadi satu. Setelah dua wilayah tersebut menjadi satu desa yaitu Desa Pelem, namun ada pengurangan dua wilayah pedukuhan yang ada dipegunungan yaitu dukuh Golong dan dukuh Jinggring yang selanjutnya digabungkan dengan Desa Pakisrejo. Akhirnya desa Pelem menjadi lima pedukuhan yaitu Dukuh Sumberjo, Dukuh Pelem, Dukuh Tambak, Dukuh Jambu, dan Dukuh Bangak hingga sekarang.

ASAL USUL DESA JABON Kec. Ngunut Tulungagung

Asal- usul desa Jabon di mulai dari prajurit Kerajaan Islam Mataram yang melarikan diri karena terjadi pemberontakan antara Trunojoyo 1674-1679, untung Suropati 1683-1706 pemberontakan Cina pada tahun 1704-1748 dan akhirnya kerajaan Mataram runtuh pada tahun 1813 dan akhirnya satu demi satu prajurit Mataram melarikan diri dari Kerajaan Mataram salah satunya Mbah Dhipo yang melarikan diri ke hutan dan membabat (menabang) hutan tersebut menjadi pekarangan di hutan tersebut terdapat banyak pohon JABON. Kejadian pembuatan perkarangan tersebut pada tahun 1818 hingga sekarang. Hingga sekarang pohon JABON tersebut masih kita temukan walaupun tidak sebanyak dahulu.

Cuplikan Sejarah Wajak Lor

Pertama : 1. Surontani / Aryo Kesumo 2. Demang Surodongso 3. Juru Taman Ketiga orang dan kawan-kawannya berasal dari Mataram / Punggowo Panembahan Senopati. Surontani dan kawan-kawan minta izin kepada Gusti kanjeng Sinuwun Senopati di Mataram mohon diberi bumi kamerdikan. Gusti Kanjeng Sinuwun Senopati mengizinkan supaya Surontani dan kawan-kawannya pergi ke arah timur disuruh babat alas Wetan. Berangkatnya dari Mataram di daerah Trenggalek, yang dinamakan gunung Bubuk. Disitu dibegal orang-orang dari Ponorogo, yang bernama : 1. Mendunggelo. 2. Sabuk Alu. 3. Moyoketen. Begal tiga orang akhirnya perang. Didalam peperangan itu begalnya kalah, dan terus diajak pergi ke alas bang Wetan, yang tujuannya diajak babat alas, atas perintah dari Kanjeng Sinuwun Senopati Mataram. Kedatangan Surontani dan rombongannya disitu terus bekerja babat alas, sesudah selesai dinamakan : KETMENGGUNGAN WAJAK. Tumenggung Surontani Ke 1 / Aryo Kesumo mempunyai anak tiga, yang bernama : 1. Roro Kaum. 2. Citro Condo. 3. Citro Nolo. Ketiga anak dari Tumenggung Surontani ke 1 sampai sekarang belum dikenal nama isterinya. Roro Kaum kawin dengan orang bernama Nilo Suwarno, anak dari Aryo Blitar, yang bertempat di Desa Aryo Jeding, Kecamatan Rejotangan. Roro Kaum mempunyai satu anak yang bernama Roro Pilang. Atas perjuangan Nilo Suwarno kepada mertuanya, ketika Surontani di penjara di Mataram, kesalahan kepada Gusti Kanjeng Sinuwun Senopati. Seketika itu tiba-tiba ada kerbau edan di Keraton Mataram. Panembahan Senopati berkata kepada Surontani, kalau Surontani dapat memegang kerbau edan yang berada di mataram atau dapat membunuh, maka akan saya keluarkan dari penjara. Surontani matak aji pameling kepada menantunya, Nilo Suwarno. Akhirnya Nilo Suwarno datang, seketika Nilo Suwarno datang dan dapat membunuh kerbau edan yang mengamuk di Mataram. Surontani bisa keluar dari penjara atas perjuangan menantunya. Nilo Suwarno seketika disuruh mengganti kedudukan mertuanya menjadi Adipati yang bernama R. Nilo Suwarno, bergelar Pangeran Kerto Kesuma yang kemudian disebut Surontani ke II, akibat pergantian anak mantu maka anak Surontani yang laki-laki bernama Citro Gondo dan Citro Nolo menyesal hatinya, karena menantunya diangkat menjadi adipati. Kedua-duanya pergi tanpa izin kepada orang tuanya. Akhirnya Citro Bondo pergi ke arah selatan dan disebut Desa Wajak / Gamping, Citro Nolo pergi ke arah Timur disebut Desa Wajak / Malang. Peresmian Adipati Nilo Suwarno / Surontani ke II yang gelarnya Pangeran Kerto Kesumo, mendatangkan Gusti Kanjeng Sinuwun Senopati Mataram. Pesta besar-besaran mengadakan kesenian Tajub dan Tiban. Sampai sekarang setiap tahun atau bulan Suro diadakan kesenian Tiban. Panembahan Senopati ketika menghadiri / meresmikan Adipati Baru, disitu Panembahan Senopati jatuh cinta kepada Roro Pilang. Percintaan Panembahan Senopati dan Roro Pilang, akhirnya Roro Pilang hamil. Kehamilan Roro Pilang akhirnya diketahui oleh orang tuanya yaitu Adipati Surontani. Roro Pilang ditanya siapa yang telah menghamilinya. Roro pilang menjawab pertanyaan orang tuanya dan mengaku bahwa Panembahan Senopatilah yang telah menghamili dirinya. Adipati Suraontani marah-marah dengan memerintahkan kepda prajuritnya dikerahkan ke Mataram, sampai kejadian perangnya antara Wajak dan mataram. Roro Pilang disuruh menuntut kepada Panembahan Senopati. Karena dimarahi oleh orang tuanya kemudian Roro Pilang lari dan pergi meninggalkan Katemenggungan Wajak. Larinya Roro Pilang, tiba-tiba bertemu dengan dua orang begal yang bernama Suro Srntono dan adiknya.Roro Pilang yang sudah hamil 9 bulan diperkosa atau diminta barang-barang yang dipakainya. Roro Pilang menangis dan merengek-rengek. Akhirnya di tempat tersebut akhirnya Roro Pilang melahirkan. Tiba-tiba ada ular yang sangat besar datang didekat Roro Pilang, dua orang begal tersebut seketika terkejut akan hadirnya ular besar tersebut. Dan kemudian dua orang begal tersebut mati dibunuh oleh ular besar. Begal yang bernama Suro Sentono mati, sampai sekarang dinamakan Dukuh Setono Bendo yang bertempat di desa Beji.Setelah ular yang sangat besar tersebut membunuh begal itu, kemudian anak Roro Pilang dimakan oleh ular tersebut. Roro Pilang menangis sejadi-jadinya bagaimana supaya anaknya dikembalikan. Ular besar tersebut berkata kepada Roro Pilang supaya jangan takut, karena akan Roro Pilang dijadikan pusaka dan kemudian memperlihatkan sebuah bukti agar Roro Pilang percaya yakni Tombak Kyai Upas. Yang besuk sampai turun temurun merupakan pusaka daerah. Pusaka Tombak Kyai Upas sampai sekrang masih tersimpan di Pendopo Kabupaten Tulungagung. Sedangkan di Desa Wajak sendiri ada jimat untuk menolong bagi siapa yang terkena gigitan binatang yang memounyai upas/bisa/racun yang dinamakan Batu Soleman, sampai sekrang batu tersebut tetap berada di penduduk Desa Wajak Lor. Karena situasi dan kondisi alam yang selalu banjir dan perubahan Katemenggungan manjadi Kadipaten, kemudian dipindah ke Cuwiri Kalangbret.

JASA – JASA KYAI ABU MANSUR TERHADAP KADIPATEN NGROWO

Sunday, 27 January 2013
1. Telah berdakwah di Kadipaten Ngrowo khusunya Tawangsari, Majan, Winong. Kedesa tersebut sejak dahulu hingga sekarang dikenal sebagai daerah santri, peninggalan beliau berupa masjid Tawangsari, Winong, Majan. Sebenarnya di Tawangsari dahulu ada Pondok Pesantren yang diasuh oleh Kyai Abu Mansur, tetapi keberadaannya tidak ada yang melanjutkan dan sekarang tidak adalagi. 2. Beliau melatih ilmu kanuragan kepada masyarakat Tawangsari. Di tahun 60-an desa tersebut terkenal pencaksilatnya. 3. Didalam buku“BABAT SEJARAH TULUNGAGUNG”, ketika Kadipaten Ngrowo hendak membangun alon-alon beliau ikutan didalam pembangunan tersebut, dahulu tempat itu berupa rawa-rawa, dan air sulit di bending atas jasa Kyai Abu Mansur air dapat dihentikan dan menjadi alon-alon sekarang. 4. Berhasil menanamkan jiwa nasional, pada ketiga desa tersebut. Rasa nasionalisme dilandasi oleh semangat ajaran islam.

NEGARI PRAMBANAN

Monday, 11 June 2012
Beberapa saat kemudian, Pak Sondong (Ki Buto locaya) meneruskan ceritannya,”Beginilah ceritera tentang Negari Prambanan. Yang menjadi raja di Prambanan adalah Prabu Dewatasari.Sang raja berputra lima orang. Kelima-limanya lelaki semua dan menjadi raja semua. Yang tertua bernama: Prabu Among Tani.Kedua,Prabu Sandang Garba.Ketiga, Prabu Karung Kala. Keempat Prabu petung Malaras dan yang kelima (bungsu) adalah Sri Sendayu. Prabu aamong tani menjadi pemimpin atau raja orang tani atau petani.Prabu Sandang garba menjadi raja orang yang berdagang atau kaum pedagang.kerajaannya di daerah Jepara. Sampai sekarang pedagang dari jepara tetap memuja Prabu Sendang Garba sambil memohon agar perdagangannya lancer selamat dan berhasil. Prabu Karung Kala menjadi raja kaum pembantai ternak (pemburu).Prabu Petung Malaras menjadi raja orang yang menyadap nira,atau penyadap nira. Prabu Sri Sendayu diperintahkan untuk menggantikan ayahnya menjadi raja di Prambanan. Kakak-kakaknya berada di bawah pemerintahan Sri Sendayu raja Prambanan, atau raja Sri Jentayu. Raja Prawatasari lalu moksa.” Ki Dermakanda bertanya,”Apakah raja Prambanan itu raja yang bernama Prabu Baka yang suka makan daging manusia?” Pak Sondong (Buta Locaya) langsung menjawab,”Ya.” Kemudian Ki Dermakanda bertanya lagi.”Mengapa sang raja suka makan rakyatnya, pada hal sama-sama manusiannya?” Pak sondong (Ki Buta Locaya) menjawab,”YA”,beginilah asal mula ceritannya. Sesungguhnya yang disebut Prabu Baka itu seorang wanita,permaisuri raja Prambanan yang tua, yaitu prabu Prawatasari, yang sudah saya ceritakan tadi. Permaisuri itu titisan Buta Nyai yang melamar Prabu Jayabaya yang kemudian tewas dikeroyok oleh penduduk di Kadhiri. Sabda Prabu Jayabaya terjadi sungguh-sungguh.Mengapa suka memangsa manusia? Karena Sang permaisuri titisan raksasa wanita yang bernama Ratu Baka.Kemudian Ratu Baka itu disebut juga Rara Jonggrang. Diberi nama Rara Jongggrang karena ia sangat tinggi. Tingginya melebihi tinggi rata-rata orang lain. Wajahnya sangat cantik. Ia merupakan wanita tercantik di Pulau Jawa pada saat itu. Ia berputra seorang pria. Setelah mempunyai putera, Rara Jonggrang lalu suka makan manusia. Itulah asal mula timbulnya sebutan Prabu Baka. Perbuatannya itu kemudian diketahui oleh sang Prabu, Rara Jonggrang lalu diusir. Rara Jonggrang lalu pergi ke hutan Ponorogo dan kemudian menetap di sana. Setelah Rara jonggrang pergi, raja memerintahakan untuk membuat patung Rara Jonggrang yang terbuat dari batu. Gunanya untuk mengenang hadirnya Rara Jonggrang di situ dan sempat menjadi permainsuri raja. Disamping itu patung tersebut digunakan untuk menghibur putera sang raja yang masih kecil apabila menangis dan menannyakan ibunya. Sampai sekarang wanita suku bangsa Jawa yang pantas dihormati diberi sebutan Nyai sebab meniru sebutan Rara Jonggrang atau ratu Baka tersebut diatas.” Ki Dermkanda kemudian bertanya, “Ratu Baka itu berputra berapa orang?” Pak Sondong menjawab, “hanya seorang putra laki-laki, seprti setelah uraikan terdahulu. Setelah Prabu Prawatasari (ayah Prabu Sri Jentayu) mangkat, ia menggantikan ayahnya menjadi raja di Prambanan dan bergelar Prabu Sri Gentayu. Ia berputra lima orang.yang tertua seorang putri bernama Rara Suciwanungsanya, bersumpah tiada mau kawin, (wadat,bahasa Jawa). Kesukaannya bertapa. Yang kedua, laki-laki bernama Raden Lembu Amiluhur. Ketiga,laki-laki bernama Raden Lembu Amerdadu. Yang keempat, laki-laki yang bernama Raden Lembu Pangarang dan yang bungsu juga laki-laki bernama Raden Lembu Amerjaya. Atas kehendak sang Prabu keempat puteranya dijadikan raja. Masing-masing ditetapkan untuk menjadi raja. Raden Lembu Amiluhur menjadi raja di Jenggala bergelar Prabu Dewa Kusuma. Raden Lembu Amerdadu menjadi raja di Daha bergelar Prabu Pujaningrat. Raden Lembu Pangarang menjadi raja di Ngurawan dan bergelar Prabu Pujadewa.Raden Lembu Amerjaya di angkat menjadi raja di Panaraga,bergelar Prabu Puja Kusuma. Dari keempat raja yang tertinggi kekuasaanya ialah raja di Jenggala. Kerajaan Prambanan lalu musnah, dan tak pernah menjadi kerajaan lagi sampai sekarang. Mengenal pendeta Rara Suciwanungsanya, dia selalu mendatangi dan menengok saudara-saudaranya. Jika kebetulan datang di Jenggala beliau bermalam di padepokan Desa Kandairen.”

JOKO PEGADUNG (Asal Mula Harimau Penjelmaan Manusia)

Pak Sondong (Ki Buta locaya) meneruskan kisahnya, “Pada waktu itu ada seorang yang bernama Joko pegadung yang bertempat tinggal di Desa Gadung. Joko Pegadung mempunyai dua orang saudaranya laki-laki. Keduanya bernama Joko Basawa dan Joko Medada. Mereka bertempat tinggal di lereng gunung Kelud, di sebelah barat daya gunung Arjuna. Menurut kabar, Joko Pegadung sesaudara tak dapat mati sebab mereka mempunyai Aji-aji Pancasona dan mempunyai binatang peliharaan, harimau. Karena itu Joko Pegadung bersaudara sangat ditakuti dan dihormati oleh penduduk desa hingga ke wilayah lain. Joko Pegadung juga termasyhur di wilayah Panjer. Joko Pegadung tiga bersaudara sangat kaya raya. Mereka mempunyai kerbau dan sapi yang jumlahnya ribuan ekor dan dibiarkan lepas di dalam hutan rimba. Tidak seorang pun berani mengusik atau mencuri ternak milik Jaka Pegadung bersaudara karena takut pada kesaktian mereka. Joko pegadung beristrikan wanita dari Desa Morangan. Pada suatau hari Joko Pegadung bertengkar dengan isterinya karena Joko Pegadung pulang membawa wanita lain ke rumahnya. Isterinya marah dan pergi meningglakan rumah,kemudian pulang ke rumahnya sendiri di Desa Morangan. Joko pegadung menyusul isterinya ke Desa Morangan dengan maksud akan mengajak pulang ke rumah mereka. Tetapi setelah Joko Pegadung tiba di desa tersebut dan mencari isterinya di rumahnya, rumah itu sepi. Joko Pegadung lalu balik kembali ke Desa Gadung. Ketika tiba di Desa Prundung,Joko Pegadung singgah ke rumah temannya yang bersama Singanyeta, seorang penabuh gamelan.Singanyeta sedangmembunyikan rebab (alat music tradisional Jawa yang mirip biola),sedang isteri Joko Pegadung duduk di sisi Singanyeta. Seketika itu juga Joko Pegadung bangkit kemarahannya, Singanyeta di pegang kakinya lalu ditarik ke luar rumah. Tetapi Singanyeta bertahan lalu berusaha melepaskan diri dan berhasil. Mereka lalu berkelahi mati-matian. Keduanya sama-sama saktinya. Mereka saling sepak, tarik-menarik,membanting dan saling dorong.Namun hingga berhari-hari tak ada yang kalah atau menang. Akhirnya, kaki Singanyeta terpegang oleh Joko Pegadung lalu dipatahkan. Tetapi Singanyeta masih dapat memegang kepala Joko Pegadung. Rambut Jokopegadung yang panjang dililitkan di tangan Singanyeta lalu dipelintir dan keplanya ditarik sehingga terlepas dari badan Joko Pegadung.Singanyeta ingat bahwa Joko pegadung mempunyai aji-aji Pancasona.Aji-aji itu memiliki kelebihan selama kepala dan badan Joko Pegadung itu berdekatan,walaupun sudah terpisah dari kepalanya dan mati, Joko Pegadung akan dapat hidup lagi karena kepala dan badannya akan bersatu kembali. Itulah sebabnya, ketika kepala Joko Pegadung sudah terpisah dari raganya, kepala itu dilemparkan jauh-jauh.Kepala itu jatuh di daerah Singkal, yakni sebuah desa di sebelah barat sungai Brantas. Akhirnya Joko Pegadung mati dan tak dapat hidup lagi, sebab kepalanya terjatuh di sebelah barat sungai Brantas,sedangkan badannya tergeletak di sebelah timur sungai Brantas. Di akhir pertempuran,kedua orang itu sama-sama binasa. Saudara Singanyeta yang bernama Joko Baya setelah mendengar bahwa Singanyeta berkelahi dan sama-sama tewas lalu menahan napasnya sampai mati, karena paru-parunya kekurangan zat asam.Sedangkan saudara Joko Pegadung yang bernama Joko Besawa dan Joko Medada setelah mendengar berita bahwa kakaknya berkelahi kemudian mati sampyuh (kedua orang yang berkelahi hingga akhirnya sama-sama mati, jadi tak ada yang kalah atau menang),maka kedua orang saudara Joko Pegadung itu bela muksa (membela dengan cara ikut mati). Kalau disebutkan bahwa Joko Pegadung dan saudara-saudaranya memiliki harimau, maksud sebenarnya ialah,Joko Pegadung bersaudara dapat berubah rupa menjadi harimau (harimau siluman).Ia menjadi guru dalam ilmu mengubah diri manusia menjadi harimau.Demikian pula kedua orang adiknya.Murid-muridnya banyak sekali.Mereka dapat pula mengubah diri mereka menjadi harimau.Harimau jadi-jadian ini disebuat harimau gadungan. Sampai sekarang Dukuh Gadungan masih tetap bernama dukuh Gadungan.Dukuh ini terletak disebelah timur gunung Kelud.Inilah asalmulanya ada harimau jadi-jadian atau harimau gadungan. Setelah kejadian itu Joko Pegadung dan Singanyeta masing-masing dibuat patungnya.Sampai sekarang patung Singanyeta dan Joko Pegadung masih ada.Juga sesajen Joko Pegadung bersaudara, semuannya diletakkan di sanggar-sanggar desa Gadungan,sampai saat ini masih ada.”

SITUS CANDI AMPEL

Wednesday, 30 May 2012


Kondisi Lapangan
Candi Tunggal dengan didukung sebuah yoni ini berada di lingkungan pemukiman di wilayah Dusun Joho,Desa Ngampel.Lingkungan sekitar candi merupakan pemukiman yang tidak begitu padat. Lahan di sekitar candi berupa halaman yang ditanami berbagai jenis tanaman keras. Jarak dari jalan raya beraspal yang menghubungkan Kalidawir dan Tulungagung sekitar satu kilometer.
Kondisi Lapangan
Candi Tunggal dengan didukung sebuah yoni ini berada di lingkungan pemukiman diwilayah Dusun Joho, Desa Ngampel.lingkungan sekitar candi merupakan pemukiman yang tidak begitu padat. Lahan di sekeliling candi berupa halaman yang ditanami berbagai jenis tanaman keras. Jarak dari jalan raya ber raspal yang menghubungkan Kalidawir dan Tulungagung sekitar satu kilometer.
Candi mengarah kebarat dan berukuran 19,7 x 15m. Keadaan candi sudah hancur sehingga yang tampak sekarang hanyalah tumpulan bata setinggi 1,65m. Walaupun demikian pada sisa kaki candi di sisi selatan masih terlihat ornament sulur – suluran dalam motif flora. Kerusakan candidisebabkan adanya tujuh pohon besar yang tumbuh di tengah sisa bangunan tersebut. Yaitu pohon Joho, Winong, Aren, Kendal, serut, Ingas dan Leran. Tinggalan lain yang terdapat disekitar halaman candi adalah dua buah Arca Dwarapala, sebuah Yoni dan beberapa balok bata andesit.
Latar Belakang Sejarah
Sangat menarik untuk diamati bahwa candi ini terdapat padadataran rendah di sekitar kaki perbukitan Walikukun. Sebagaian besar percandian yang berada dilokasi lain padadataran rendah yang sama diketahui berasal dari Masa Majapahit. Berdasarkan keletakan maupun maupun rancang bangunanya dapat dipastikan bahwa candi Ampel juga dibangun padawaktu yang sama, yaitu suatu periode di mana cukupbanyak dibangun percandian dengan menggunakan bahan bata.
Latar Belakang Budaya
Walaupun hanya berupa tumpukan bata yang saat ini “diikat” oleh akar – akar pohon besar,kekuatan situs ini tetap dapat dikenali. Pada diding kaki candi,antara lain, masih tampak adanya ornament berupa sulur – suluran. Selain arca Dwarapala dan Yoni,di sana terdapat pula tujuh umpak batu.
Keberadaan Yoni jelas menunjukan bahwa bangunan candi itu berlatar belakang keagamaan Hindu. Adapun tujuh buah umpak yang terdapat di sana menunjukkan adanya manfaat bangunan terbuat dari bahan lain yang digunakan untuk menaungi bagian atas candi tersebut.
Sebagaiman kebanyakan candi di Nusantara, candiAmpel dahulu dugunakan pula sebagai tempat pemujaan. Sekarang hanya berfungsi sebagai obyekwisata saja. Walaupun tidak lagi digunakan sebagai tempat pemujaan bagiumat Hindu,dalamkasus tertentu situs ini masih dijadikan tempat nyuwun donga oleh sementara penduduk sekitar.
Powered by Blogger.