MENGENANG SERUAN SANG NASIONALISME

Sunday, 12 December 2010


BUNG TOMO

Suetomo, lahir di Surabaya, Jawa Timur,3 Oktober 1920. Lebih di kenal dengan nama BUNG TOMO. Adalah pahlawan yang terkenal karena peranannya dalam membangkitakn semangat rakyat Surabaya untuk melawan penjajah Belanda melalui tentara NICA. Berakhir dengan pertempuran 10 November 1945 yang hingga kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Sutomo pernah menjadi seorang jurnalis yang sukses. Kemudian ia bergabung dengan sejumlah kelompok politik dan sosial. Ketika ia terpilih pada 1944 untuk menjadi anggota Gerakan Rakjat Baru yang diponsori Jepang, hampir tak seorangpun yang mengenal dia. Namun semua ini mempersiapkan Suetomo untuk peranannya yang sangat penting. Ketika pada Oktober dan November




CANDI TIKUS

Monday, 6 December 2010
Candi tukus terletak di dukuh Dinuk Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Candi ini berukuran 29,5X28,25 meter dan tinggi keseluruhan 5,2 meter. Nama candi tikus diambil dari sejarah penemuannya yang ketika itu pertama kali ditemukan di sana ditemukan banyak sekali tikus, dan hama tikus ini menyerang pertanian desa di sekitarnya. Pertama kali ditemukan pada tahun 1914 kemudian baru dilakukan pemugaran pada tahun 1983-1986.



Di tengah Candi Tikus terdapat miniatur empat buah candi kecil yang dianggap melambangkan Gunung Mahameru tempat para dewa bersemayam dan sumber segala kehidupan yang diwujudkan dalam bentuk air mengalir dari pancuran-pancuran/jaladwara yang terdapat di sepanjang kaki candi.
Air ini dianggap sebagai air suci amrta, yaitu sumber segala kehidupan.
Arsitektur bangunan melambangkan kesucian Gunung Mahameru sebagai tempat bersemayamnya para dewa. Menurut kepercayaan Hindu, Gunung Mahameru merupakan tempat sumber air Tirta Amerta atau air kehidupan, yang dipercaya mempunyai kekuatan magis dan dapat memberikan kesejahteraan, dari mitos air yang mengalir di Candi Tikus dianggap bersumber dari Gunung Mahameru.
Gunung meru merupakan gunung suci yang dianggap sebagai pusat alam semesta yang mempunyai suatu landasan kosmogoni yaitu kepercayaan akan harus adanya suatu keserasian antara dunia dunia (mikrokosmos) dan alam semesta (makrokosmos). Menurut konsepsi Hindu, alam semesta terdiri atas suatu benua pusat yang bernama Jambudwipa yang dikelilingi oleh tujuh lautan dan tujuh daratan dan semuanya dibatasi oleh suatu pegunungan tinggi. Jadi Sangat mungkin Candi Tikus merupakan sebuah petirtaan yang disucikan oleh pemeluk Hindu dan Budha, dan juga sebagai pengatur debit air di jaman Majapahit.

UPAYA PENANGGULANGAN PENCEMARAN TANAH

Monday, 8 November 2010



Limbah domestik yang berjumlah sangat banyak memerlukan penanganan khusus agar tidak mencemari tanah. Pertama sampah tersebut kita pisahkan ke dalam sampah organik yang dapat diuraikan oleh mikroorganisme (biodegradable) dansampah yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme (nonbiodegradable). Oleh karena itu, sangatlah bijaksana jika setiap rumah tangga dapat memisahkan sampah atau limbah atas dua bagian yakni organik dan anorganik dalam dua wadah yang berbeda sebelum diangkut ketempat pembuangan akhir.

Sampah organik yang terbiodegradasi dapat diolah, misalnya dijadikan bahan urukan, ke-mudian kita tutup dengan tanah sehingga terdapat permukaan tanah yang dapat kita pakai lagi; dibuat kompos; khusus kotoran hewan dapat dibuat biogas dll.


Sampah anorganik yang tidak dapat diurai oleh mikroorganisme. Cara penanganan yang terbaik dengan pendaur-ulangan sampah.
Mengurangi penggunaan pupuk sintetik dan berbagai bahan kimia untuk pemberantasan hama seperti pestisida


Mengolah limbah industri dalam pengolahan limbah, sebelum dibuang kesungai atau kelaut.
Mengurangi penggunaan bahan-bahan yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme (nonbiodegradable). Misalnya mengganti plastik sebagai bahan kemasan/pembungkus dengan bahan yang ramah lingkungan seperti dengan daun pisang atau daun jati.


Langkah penanggulangan

Apabila pencemaran telah terjadi, maka perlu dilakukan penanggulangan terhadap pencemara tersebut. Tindakan penanggulangan pada prinsipnya mengurangi bahan pencemar tanah atau mengolah bahan pencemar atau mendaur ulang menjadi bahan yang bermanfaat. Tanah dapat berfungsi sebagaimana mestinya, tanah subur adalah tanah yang dapat ditanami dan terdapat mikroorganisme yang bermanfaat serta tidak punahnya hewan tanah. Langkah tindakan penanggulangan yang dapat dilakukan antara lain dengan cara:

1) Sampah-sampah organik yang tidak dapat dimusnahkan (berada dalam jumlah cukup banyak) dan mengganggu kesejahteraan hidup serta mencemari tanah, agar diolah atau dilakukan daur ulang menjadi barang­barang lain yang bermanfaat, misal dijadikan mainan anak-anak, dijadikan bahan bangunan, plastik dan serat dijadikan kesed atau kertas karton didaur ulang menjadi tissu, kaca-kaca di daur ulang menjadi vas kembang, plastik di daur ulang menjadi ember dan masih banyak lagi cara-cara pendaur ulang sampah.

2) Bekas bahan bangunan (seperti keramik, batu-batu, pasir, kerikil, batu bata, berangkal) yang dapat menyebabkan tanah menjadi tidak/kurang subur, dikubur dalam sumur secara berlapis-lapis yang dapat berfungsi sebagai resapan dan penyaringan air, sehingga tidak menyebabkan banjir, melainkan tetap berada di tempat sekitar rumah dan tersaring. Resapan air tersebut bahkan bisa masuk ke dalam sumur dan dapat digunakan kembali sebagai air bersih.

3) Hujan asam yang menyebabkan pH tanah menjadi tidak sesuai lagi untuk tanaman, maka tanah perlu ditambah dengan kapur agar pH asam berkurang.

Dengan melakukan tindakan pencegahan dan penanggulangan terhadap terjadinya pencemaran lingkungan hidup (pencemaran udara, pencemaran air dan pencemaran tanah) berarti kita melakukan pengawasan, pengendalian, pemulihan, pelestarian dan pengembangan terhadap pemanfaatan lingkungan) udara, air dan tanah) yang telah disediakan dan diatur oleh Allah sang pencipta, dengan demikian berarti kita mensyukuri anugerah-Nya.

PENGARUH KEKUASAAN KOLONIAL DAN PERKEMBANGAN PENDIDIKAN BARAT DI INDONESIA

Monday, 18 October 2010
Memamsuki aba ke-20 boleh dikatakan bahwa pemerintah Kolonial Belanda telah berhasil mengatasi hampir seluruh perlawanan di Nusantara. Keadaan in tidak berarti berhenti total Perlawanan pejuang Indonesia akan tetapi pejuang Indonesia merubah taktik perjuangan dari cara menggunakan kekuatan fisik menuju ara ber organisasi.



Pelaksanaan Politik Etis yang dimulai sejak tahun 1900 lambat laun mengakibatkan pendidikan semakin berkembang. Sekolah - sekolah didirikan baik oleh pemerintah kolonial maupun swasta. Tujuan sekolah didirikan untuk memenui penisian pekerjaan pemerintah kolonial,terutama tenaga kerja rendahan dan kasar.
pemerintahan kolonial mula-mula mendirikan Sekolah Daasar. Aa dua jenis Sekolah Dasar yaitu:
  1. Sekolah Dasar "Kelas Dua", adalah sekolah yang di peruntukan bagi anak- anak pribumi terutama golongan masyarakat bawah.
  2. Sekolah Dasar " Kelas Satu", adalh sekolah yang diperuntukan bagi anak-anak pegawai negri. Orang-orang yang punya kedudukan atau bangsawan, dan orang-oarang kaya.

SANG PRABU di CEMPA

Sunday, 19 September 2010


Sang Nata di Cempa bernama Prabu Kuntara. Sang Nata berputra 3 orang putra –putr1 1.Dewi Murdaningrum
2. Dewi Tjondro Woelan
3. Raden Tjingkara Dewi Murdaningrum dipersunting oleh Prabu Kartowidjojo, Majapahit.
Dewi Tjondro Woelan dipersunting oleh Maulana Malik Ibrahim dan berputra Raden Rachmad ( SUNAN NGAMPEL DENTA ).



Sang Prabu Kartowidjojo Majaphit yang di beristrikan Dewi Murdaningrum berputra Raden Patah Sultan Bintara Demak .
Raden Patah Sultan Bintara Demak adalah saudra sepupu (Nak Sederek) dengan Raden Rachmad Sunan NGAMPEL Denta Surabaya.

KISAH MAULANA MALIK IBRAHIM

Saturday, 18 September 2010



Maulana Malik Ibrahim adalah putra dari Syeh Djumadil Qubra. Syeh Djumadil Qubra adalah putra dari R. Imam Ja’far Shadiq. Putra dari Ali Dhahir sampai Kanjeng Nabi Mohammad S.A.W sudah 11 keturunan.
Ketika tahun 1.300 M. Maulana Malik Ibrahim menyiarkan ( syiar ) Agama Islam di Negri Cempa . Lama kemudian Maulana Malik Ibrahim mempersunting dan menikahi Putri Cempa, putra putri Sang Ratu yang bernama Dewi Tjondro Woelan. Tidak lama kemudian setelah pernikahan. Dewi Tjondro Woelan mengandung ( hamil ). Dewi Tjondro Woelan melahirkan seorang putra, di beri nama Raden Racmahad yang akhirnya berdiri sebagai Sunan Ngampel Denta di Surabaya.

Sunan Ngampel Denta berputra berputra Raden Satmoto, atau yang bernama Kyai Ngarobi. Raden Satmoto berputra Putri Ny. Anom Besari yang wafat dimakamkan di pemakaman Kuncen, Caruban Madiun. Ny. Anom Besar Kuncen , berputra 3 Orang:
1. Kyai Chatib Anom yang wafat dan dimakamkan di pemakaman Kalambret desa Srigading Tulungagung.
2. Kyai Mohammad Besari yang wafat dan di makamkan di pemakaman Tegalsari, Jetis Ponorogo.
3. Kyai Noer Sodiq yang wafat dan dimakamkan di pemakaman Tegalsari, Ponorogo dan berputra Kyai Mukmin yang wafat dan di makamkan di pemakaman Nglawu Mlarak.

Kisah KH. ABU MANSUR PENGIKUT PANGERAN MANGKUBUMI

Wednesday, 15 September 2010


masih keturunan KH Abu Mansur, beliau keturunan adipati Cakraningrat dari Madura yang belajar Agama Islam (menjadi santri) kepada Kyai Ageng Muhammad Besari di Tegalsari, Jetis, Ponorogo. Nama kecil KH. Abu Mansur adalah Bagus Qosim. Beliau mempunyai 4 putra, yaitu; Kyai Yusuf ( Martontanu / Abu Mansur 2), Kyai Ilyas Winong, Nyai H. Muhsin dan Nyai Djodikromo.

Dalam geger Pecinan semula Sunan Pakubuwono 2 (1727-1749) membantu orang- orang Cina melawan VOC. Setelah orang- orang Cina dapat dikalahkan VOC, Pakubuwono 2 berbalik memihak VOC. Melihat sikap Pakubuwono 2 berbalik kepada VOC, Mas Garendi (cucu Sunan Mas) dengan didukung oleh rakyat memberontak dan berhasil menguasai Keraton Surakarta kemudian diangkat menjadi Sunan Kuning. Pakubuwono 2 terpaksa menyingkir mencari perlindungan kepada Kyai Ageng Mohammad Besyari di Ponorogo. Dengan mendapat bantuan dari Kompeni dan Kyai Ageng Muhammad Besyari beserta murid- muridnya, termasuk KH. Abu Mansur, Pakubuwono 2 dapat menduduki tahta kembali pada tahun 1668 Jawa / 1743 Masehi.

Atas jasanya mengembalikan kedudukan Pakubuwono 2 menjadi raja di Surakarta inilah maka Kyai Ageng Muhammad Besyari mendapat tanah perdikan di Tegalsari , Jetis Ponorogo dan KH. Abu Mansur mendapat hadiah tanah perdikan di Tawangsari Tulungagung pada tahun 1672 Jawa/ 1747 Masehi

Pada waktu Sunan Pakubuwono 3 memerintah Kerajaan Mataram (1749-1788) menggantikan ayahnya, Sunan Pakubuwono 2, mendapat perlawanan kuat dari pamannya, Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said . Karena pemberontakan sulit di padamkan, maka diadakan perjanjian Giyanti (1755) yang salah satu isinya adalah Pangeran Mangkubumi diangkat menjadi Raja di Yogyakarta dengan mendapat gelar Sultan Hamengkubuwono 1.

Perjuangan Pangeran Mangkubumi mendapatkan tahta Kerajaan di Yogyakarta tersebut mendapat bantuan dari Kyai Ageng Muhammad Besyari (Kyai Basyariyah) dan murid- muridnya, termasuk KH. Abu Mansur. Karena Kyai Ageng Muhammad Besyari dan KH. Abu Mansur sepaham dan menjadi pengikut Pangeran Mangkubumi dalam hal melakukan perlawanan terhadap VOC. Karena jasanya dalam membantu Pangeran Mangkubumi memperoleh kedudukan sebagai Raja Yogyakarta, maka Pangeran Mangkubumi memperkuat kedudukan KH. Abu Mansur sebagai penguasa di Tawangsari dengan memberi surat tugas atas nama Pangeran Mangkubumi tahun 1770 Masehi.

Layang kekancingan (surat tugas) dari Pangeran Mangkubumi kepada KH. Abu Mansur tersebut sebagai berikut:

“Ingkang dihin salam ingsun marang siro Abu mansur.

Pakeniro ingsun maringi panguwoso merdiko marang siro, yoiku tanah iro sarehiro kanggo sak turun- turun iro.

Ingkang dihin ingsun maringi panguwoso marmane, lan ingsun maringi nawolo ingsun paparentahan kang mardiko.

Sing sopo nora angestokno, amaido, iku banjur hunjukno marang ingsun, bakal ingsun palaksono hono alun- alun ingsun, sakehing nayokoningsun.

Asmo dalem Mangkubumi dawuh pangandiko dalem sinangkalan Buto Ngerik Mongso Jalmi”.

Terjemahan bebas dari layang kekancingan tersebut adalah

“Pertama- tama salamku kepada Abu Mansur.

Atas perintahku kuberi kamu kekuasaan tanah merdeka, yaitu tanah dan daerah yang kamu kuasai semua untuk kamu dan semua keturunanmu.

Itulah sebabnya aku memberi kekuasaan lebih dahulu dan kuberikan suratku (sebagai penguat) pemerintahan yang merdeka

Barang siapa tidak melaksanakan, mencela, laporkan kepadaku akan kuberi hukuman di alun- alun saya (disaksikan) oleh semua pejabat- pejabatku.

Atas nama perintah Mangkubumi, dengan diberi tanda waktu Buto Ngerik Mongso jalmi”.

Surat tersebut ditulis dengan huruf Jawa, bersetempel merah, atas nama Pangeran Mangkubumi dan aslinya disimpan oleh keturunan KH. Abu Mansur. Sengkalan “Buto Ngerik Mongso Jalmi” tersebut menunjukkan tahun pembuatan atau dikeluarkannya surat. Namun ada beberapa penafsiran terhadap sengkalan tersebut, terutama pada kata “Ngerik”. Buto= 5, Ngerik jika diberi makna “lar” (bulu)= 2, jika diberi makna “muni” (bersuara)= 7, jika diberi makna “nggangsir” (jangkrik)= 9, Mongso= 6 dan Jalmi= 1. Jika dibaca dari belakang, sengkalan Buto Ngerik Mongso Jalmi tersebut menunjuk tahun 1625 / 1675 / 1695 tahun Jawa. Kemudian jika dikonversi ke tahun masehi menjadi tahun 1700/ 1750/ 1770. Dalam sejarah disebutkan Pangeran Mangkubumi memerintah Kerajaan Yogyakarta (Hamengkubuwonbo.1)antara tahun 1755- 1792, maka penafsiran atas sengkalan tersebut lebih tepat menunjuk tahun 1770 Masehi, lima belas tahun setelah mendapat kedudukan sebagai Hamengkubuwono 1. Karena sebelum Mangkubumi menjadi Sultan Yogyakarta, Kadipaten Ngrowo di bawah kekuasaan Kasunanan Surakarta. Dengan adanya perjanjian Gianti (1755) ada pembagian wilayah kekuasaan dan Kadipaten Ngrowo menjadi wilayah kekuasaannya Kasultanan Yogyakarta.

Sedangkan layang kekancingan (surat) dari/ atas nama Sunan/ Keraton Surakarta isinya sebagai berikut:

“Tetedakan nawolo dalem , asmo dalem.

Ingsun maringi bumi marang Kyai Abu Mansur, siji- sijining deso Majan, Winong, Tawangsari.

Marmane ingsun paringi gegadhuhan bumi, dene ingsun dhawuhi andedongo nyuwunake slamet kagunganingsun keraton ing Surokarto.

Marmane sapungkuringsun sopo kang nyekel tanah Jowo darah ingsun kang jumeneng noto nglestarekno peparing ingsun marang Kyai Abu Mansur tumeko saturun- turune.

Pepacuhan- pepacuhan kawulaningsun kabeh podo angestokno saunining nawoloningsun.

Sing sopo ora angestokno tanapi amaido kalaksono sakehing nayakaningsun ono alaun- aluningsun.

Ingsun dhawuh pangandiko dalem.

Kaping, 15 Mulud 1672”.

Terjemahan bebas layang kekancingan dari keraton Surakarta tersebut :

“Surat dari saya atas nama saya.

Saya memberi tanah kepada Kyai Abu Mansur, masing- masing desa Majan, Winong dan Tawangsari.

Makanya saya memberi hak guna tanah, dan saya perintah berdoa memintakan keselamatan keraton saya di Surakarta.

Setelah saya, siapa yang memerintah tanah Jawa (hendaknya) melestarikan pemberian saya kepada Kyai Abu Mansur sampai keturunannya.

Segenap aturanku, semua pejabatku hendaklah mentaati bunyi surat saya.

Barang siapa tidak mentaati atau mencela mendapat hukuman dari pejabat- pejabatku di alun- alun.

Saya ucapkan ucapan saya.

Pada, 15 Mulud 1672.

Layang kekancingan tersebut aslinya disimpan oleh Kyai Komaruz Zaman, imam masjid Tawangsari sekarang. Ditulis dengan huruf Jawa, tidak distempel dan tidak ditanda tangani. Tahun yang tertera di surat tersebut (15 Mulud 1672) menunjukkan tahun Jawa. Jika dikonversi ke tahun masehi menjadi tanggal, 15 Mulut 1747 Masehi.

Ada dua layang kekancingan (surat) yang pernah diterima KH. Abu Mansur, namun tahunnya berbeda. Yang atas nama Kerajaan Surakarta, Pakubuwono 2, pada 15 Mulud 1672 Jawa/ 1747 Masehi dan atas nama Pangeran Mangkubumi tahun 1695 Jawa/ 1770 Masehi. Ada kemungkinan surat pertama (1672.J/ 1747.M) diberikan oleh Pakubuwono 2 yang menjabat sebagai raja tahun 1727-1749 sebelum Keraton Surakarta dipecah menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta pada waktu perjanjian Gianti tahun 1755. Sedang surat kedua 1695 Jawa/ 1770 Masehi diberikan oleh Mangkubumi setelah 15 tahun menjadi Sultan Yogyakarta. Mangkubumi menjadi Sultan Yogyakarta tahun 1755- 1792 Masehi.

Namun ada juga kemungkinan penafsiran yang berbeda. Bahwa layang kekancingan (surat) dari Mangkubumi kepada KH. Abu Mansur tersebut ditafsirkan tahun 1675 Jawa/1750 Masehi. Dengan alasan surat tersebut atas nama Mangkubumi, bukan atas nama Hamengkubuwono 1. Dengan demikian Mangkubumi mengeluarkan surat tersebut sebagai wakil/ sekretaris raja yang membidangi masalah administrasi kerajaan menguatkan surat pertama yang dikeluarkan tahun 1672 jawa/ 1747 Masehi oleh Pakubuwono 2 yang belum ditanda tangani dan belum distempel yang dikeluarkan 4 tahun setelah menduduki tahta kembali dari kekuasaan Sunan Kuning pada tahun 1743 Masehi.

Dengan adanya perjanjian Gianti tahun 1755 M, wilayah kekuasaan kerajaan Surakarta dibagi menjadi dua atas dasar jumlah penduduk dan tingkat kesuburan wilayah. Pembagian tersebut sebagai berikut;

Kasunanan Surakarta dengan raja Sunan Pakubuwono 3 mendapat bagian wilayah; daerah Djagaraga, Ponorogo, separonya (setengahnya) Pacitan, Kediri, Blitar, Srengat, Lodoyo, Pace, Nganjuk, Brebek, Wirosobo (Modjoagung), Blora, Banyumas dan Keduang. Sedangkan jumlah penduduk di Kasunanan Surakarta 85.350 jiwa.

Kasultanan Yogyakarta dengan raja Mangkubumi (Hamengkubuwono 1) mendapat bagian wilayah; Daerah Madiun, Magetan, Caruban, setengahnya Pacitan, Kertosono, Kalangbret (Ngrowo), Japan (Mojokerto), Jipang (Bojonegoro), Teras, Keras, Ngawen dan Grobogan. Sedangkan jumlah penduduk Kasultanan Yogyakarta 87.050 jiwa.

Jasa- jasa KH. Abu Mansur terhadap kadipaten Ngrowo/ Tulungagung diantaranya adalah:

.1. Beliau telah berdakwah di Kadipaten Ngrowo, khususnya Desa Tawangsari, Majan dan Winong. Ke tiga desa tersebut sejak dahulu hingga sekarang lebih dikenal sebagai daerah santri. Benda- benda purbakala peninggalan beliau berupa masjid Tawangsari, Winong dan Majan sampai saat ini masih bisa kita saksikan walaupun sudah mengalami beberapa kali renovasi.

2. Beliau telah melatih ilmu kanuragan kepada masyarakat ketiga desa tersebut. Di tahun enam puluhan, ke-tiga desa tersebut terkenal pencak silatnya. Setiap ada lomba pencak silat, pemuda- pemuda ke- tiga desa tersebut selalu ambil bagian. Bahkan banyak pondok pesantren yang ada di pelosok desa se- Tulungagung banyak yang mendatangkan guru bela diri/ pencak silat dari ke-tiga desa tersebut.

3. Di dalam buku “Babat dan Sejarah Tulungagung” disebutkan bahwa ketika Kadipaten Ngrowo hendak membangun alun- alun, KH. Abu Mansur ikut andil dalam pembangunan tersebut. Pada waktu itu tempat yang rencananya akan dibangun alun- alun masih berupa rawa- rawa. Di rawa- rawa tersebut ada sumber air yang terus mengeluarkan air dan sulit dibendung. Ternyata, atas jasa KH. Abu Mansur , sumber air tersebut dapat dihentikan hingga seperti alun- alun yang sekarang ini.

4. KH. Abu Mansur telah berhasil menanamkan jiwa nasionalisme yang kuat pada rakyat ke- tiga desa tersebut. Ke-tiga desa tersebut sangat membenci terhadap penjajah Belanda maupun Jepang. Rasa nasionalisme yang ditanamkan oleh KH. Abu Mansur kepada rakyat Ngrowo dilandasi oleh semangat ajaran Agama Islam. Mungkin, karena semangat mempertahankan ajaran Islam inilah ketika terjadi peristiwa G.30. S, banyak sakerah- sakerah (pendekar Muslim yang berpakaian ala Madura) yang gagah berani dari masyarakat ke-tiga desa tersebut.

Demikianlah sekilas sejarah tentang kehidupan KH. Abu Mansur pada masa lalu. Semoga amal beliau dalam membimbing masyarakat Majan, Winong dan Tawangsari khususnya dan Kadipaten Ngrowo pada umumnya diterima oleh Allah dan mendapat balasan yang setimpal. Khusus masyarakat ke-tiga desa tersebut tidak ada jeleknya jika senantiasa mengenang jasa- jasa beliau dan berupaya melanjutkan perjuangannya. Sekalipun sekarang ke-tiga desa tersebyt sudah bukan lagi berstatus tanah perdikan, tidak ada jeleknya jika mengadakan kegiatan yang dapat mengenang jasa- jasa KH. Abu Mansur.
Powered by Blogger.